THANK YOU 30HM 2017

#30harimenulis – day30

WP_20170706_001

Dear teman-teman 30harimenulis, mimin dan momon,

Terima kasih. It’s always been a joy to be here and joining the fun for a full month (and its given breaks). I have learn so much from you guys. Irma, Merista, Try, Rangga, Vian, terima kasih untuk tulisannya yang 80% publishing-worthy karena untaian kalimatnya yang proporsional dan flow yang teratur. Alkaryana, Bg, Villa, Annisa, untuk easy-reading nya yang fun. Juga teman-teman yang lain yang ikut berpartisipasi. Saya menikmati setiap postingan kalian walau kadang mata terganggu dengan background blog yang lebih meriah dari tulisannya. If I’m being too honest, it’s just a reality check. 

Terima kasih untuk hadiah bukunya! I know I will enjoy it! Kriterianya apa ya jadi bisa dapet kado buku melulu nih udah dua kali (#geEr #pedeSelangit). Tahun ini saya berusaha menulis seperti Irma, Merista dan Rangga dengan bahasa Indonesia proper, tapi malah nggak enak dibaca. Kadang saya aja ngga ngerti saya nulis apa (contoh orang yang selalu kekurangan kosa kata bahasa Indonesia karena biasa pake bahasa kuda). Tahun ini pula saya menyisihkan perasaan malas yang adalah komposisi utama hidup saya. I made it to 30 days! Cuman 1 hari late post.

Tema yang nggak ditentukan sebenarnya menaikkan skill level yang join nulis. Artinya semua orang diminta untuk membiasakan saja menulis dan menulis apa saja. Saya pernah diberi tips oleh seorang teman yang lelah mendengar saya berkata, “I’m running outta idea.”  He told me something I don’t like to admit that it’s true: just write and keep typing, read it later at the end of the day. Tapi saya bilang sih kemudian, that he’s right.

Seperti halnya penempaan bulan romadon -dimana kebiasaan-kebiasaan baiknya sebisa mungkin dibawa terus sepanjang tahun, semoga penempaan menulis selama 30 hari inipun akan membawa teman-teman lebih ahli menulis. Kalau ada yang tulisannya sudah publish, dibagi link-nya di FB 30HM biar kita semua (terutama mimin dan momon) bisa bangga dan kemudian kita semua bisa ngaku-ngaku bff kamu.

30HM perlu sebuah master-plan. So many talented people, so many of them have proofed that they are a good writer. Start a self-publishing! Let’s do that!

Status

SARUNG

#30harimenulis – day29

I will tell you EVERYTHING about sarong that you already know and I will add some lame tips about it..

Sejauh ini, di dalam lemari (baca: koper) saya ada lima sarung bali –oops lupa, yang hijau sudah saya buang karena super rombeng, jadi sisa empat; satu sarung sembahyang -yang dicuri dari tumpukan sarung bokap karena bahannya dingin; dan satu sarung batik untuk kondangan. Secara teknis, sarung bali dipakai saat di Bali, sarung sembahyang dipakai saat sholat, dan sarung batik dipakai saat pergi menghadiri acara-acara yang lebih resmi dan merupakan kebanggaan orang Indonesia.

Sarung bali adalah sarung kesukaan saya. Dia multifungsi –if I can say it has gazillion functions. Berikut adalah kegunaan dan mungin adalah keharusan memiliki sarung bali:

  • Saat travelling indocina 2013, sarung bali saya pakai untuk pengganti handuk. Selain bahannya mudah serap air, mengeringkannyapun mudah tinggal diangin-angin. Sejam kemudian kita sudah bisa cabs dari hotel dan melanjutkan perjalanan.
  • Fungsi yang sama saat pergi kemanapun yang harus menginap atau tidak pulang ke rumah sendiri. Selalu bawa sarung bali lebih dari satu.
  • Buat scarf jika berkendara. Sangat direkomendasikan jika melibatkan perjalanan jauh karena membantu memfilter debu yang terhirup sepanjang perjalanan sekaligus menutupi dada dari angin.
  • Buat didudukin saat seat motor memanas karena udara tropis kepulauan.
  • Sarung bali disebut juga sarung pantai karena memang untuk wara-wiri di pantai menutupi pantat-pantat terburai dan bikini top yang lebih sering jadi pandangan tidak senonoh. Khususnya jika kamu lelaki dan berperut buncit. Man, cover that up before you get someone permanently blind.
  • Buat ganti baju saat tidak menemukan tempat yang lebih privat.
  • Jadi ihram saat keluar kamar mandi dan ruangan kamu cuma kotak 6×4 tanpa pembatas dan kamu sedang kedatangan kawan nongkrong.
  • Dipakai saat malas becelana dan harus ke warung membeli sesuatu.
  • Buat selimutan.
  • Buat seprei mini.
  • Buat alas dudukan saat piknik.
  • Buat ganjal kepala saat tidak ada bahu untuk bersandar (#tssah)
  • Balut di muka semacam penjahat garong, then show up in your cafe, point your staffs with cucumber you just bought at the market and shout, “gimme all y’all laff andatansyion, NOW!” and give yourself a good scene in a very slow day at work..
  • Ikatkan kedua ujung pada leher, naik motor dan ngebut di jalanan komplek untuk mendapatkan efek sayap superhiro.
  • Beberapa kali saya menggunakan sarung bali untuk sajadah, baik di masjid atau saat berada di tempat terbuka dan yakin tak akan menemukan masjid 15 menit kedepan.
  • Mengelap ingus, air mata, keringat, iler, dan lain-lain.. (??)
  • Jadi pelindung kepala ringan saat hujan gerimis.
  • Untuk membungkus cucian kotor, pengganti kantong plastik. (This one is a serious one, you better put all your groceries in your bag with your laptop in it or choose to bring with you every time a foldable shopping bag and sarong for any purchase you make anywhere and refuse to have their plastic bags).

Semoga tips di atas berguna dan menjentikkan ide pada kita akan fungsi sarung bali lainnya yang belum terjabarkan. Menjadikan sarung bali saringan tahu dan hammok tidak direkomendasikan. Terima kasih.

Status

CERPEN

#30harimenulis – day28

AKU DAN BULAN

Rambutnya melambai, hitam legam, bergelombang dengan mata bulat dan bulu mata yang tegak menentang gravitasi. Bayangan itu ada di langit-langit. Semakin larut dalam lamunan, makin jelas. Beberapa hari aku dibuatnya tidak bisa tidur, gelisah sepanjang malam memikirkannya.

Kemarin sore aku lihat dia di tepi jalan, kehujanan, duduk di sebelah ibunya. Kusadari dia memang lebih sering tertunduk, memandang batu trotoar. Pertama berpapasan denganku di gang, dia seperti semua perempuan yang membuatku jatuh cinta; berambut panjang, bermuka malu-malu, tertunduk jika berpapasan dengan orang lain.

Aku dengar beberapa orang di gang menyapanya ’Bulan’. Jadi, Bulanlah namanya, sebaik bendanya sendiri di angkasa. Aku belum pernah melihatnya melintas dengan orang lain kecuali dengan ibunya. Seperti pagi ini, aku mengintai lagi dari jendela di lantai atas, hanya untuk melihatnya lewat. Angin sepoi dalam udara yang masih terlalu pagi ini membuatku mengantuk dan rasanya sebentar lagi akan tertidur di ambang jendela.

Kemudian, itu dia! Dengan baju yang itu-itu juga setiap hari, melintas di bawah, sendirian. Sendirian? Kemana Ibunya dan kenapa dia sendirian? Jam 6.30. Aku melirik jam tanganku dan memutuskan melakukan sesuatu. Lampu-lampu di gang belum semuanya dimatikan, aku melihatnya berbelok di ujung gang ketika aku mencapai pintu depan dan membantingnya.

Dia jalan terus sampai ke halte dan naik bis yang ngetem. Disini aku mempercepat langkah, mengikutinya masuk ke bis yang sama. Pagi begini bis masih sepi, tapi aku sengaja duduk di belakangnya. Orang bisa mengira aku pencopet karena memperhatikannya terus. Tapi aku tidak perduli. Lagi pula dia lebih aman dekat denganku. Dia tidak berbau parfum atau cologne seperti perempuan-perempuan lain yang pernah ada sedekat ini denganku.

Dia berdiri setelah bis berjalan sekitar setengah jam dan beberapa saat kemudian aku kehilangannya karena seorang lelaki gemuk berdiri menghalangi. Pada saat bis berhenti tadi, lebih banyak orang diangkut dari pinggir jalan, memenuhi ruang yang sudah penuh sesak. Aku bersusah-payah menjejal jalanku keluar. Akhirnya aku bisa turun setelah semenit lebih berjuang turun. Tapi, aku sudah tak menemukan Bulan dimana-mana.

Aku memandang berkeliling. Tempat ini tidak asing dan mengingatkan aku akan seseorang. Seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Aku mengangkat bahu, berbicara dengan pikiranku sendiri lalu berjalan sejauh satu blok dan mengambil jalan potong lewat sebuah gang sempit di mana rumah-rumah susun berhimpitan, khas kota metropolitan. Seorang temanku tinggal disalah satu rumah susun itu, itu yang kukatakan pada pikiranku. Mungkin ini masih terlalu pagi untuk bertamu, debatku pada pikiranku, tapi sebelum aku berfikir dua kali aku sudah di depan pintunya dan buku jariku mengetuk.

Seorang wanita dewasa dengan rambut hitam bergelombang membuka pintu. Tampangnya masih kusut saat dia berdiri di sana, baru bangun tidur. Dia mengenakan kemeja yang sepertinya bukan miliknya, karena sangat kebesaran. Kancingnya terbuka lebar, atau dibuka lebar? Menampakkan baju dalam yang tak kalah tipisnya dengan baju luarnya. Aku katakan padanya aku bisa kembali lain kali kalau sekarang masih terlalu pagi. Dia menggeleng. Lewat bahunya, aku melihat seorang laki-laki tak kukenal tidur di ranjangnya.

Dia meraih lenganku dan mendudukkanku di sofa. Tidak bicara apapun. Disuguhinya aku secangkir teh dengan harum buah peach, dia tahu itu kesukaanku. Kuhirup teh hangat sambil memandangnya. Diapun tak lepas-lepasnya menatapku sampai kemudian bertanya aku kemana saja tak lagi mengunjunginya. Disebutnya beberapa orang yang sempat bertemu dengannya, kemudian menceritakan berita terbaru tentang mereka. Diapun terus berbicara.

Disela-sela ceritanya, aku menggoyangkan kepalaku sambil tersenyum. Luky. Sudut matanya lancip dan indah. Bibirnya penuh dan berwarna pucat, biasanya dipulas lipstik, tapi tidak pagi ini. Alis mata sempurna. Wajah nan cantik itu sesempurna bentuk tubuhnya. Kusadari, semua ketidaksengajaan ini dan kenanganku dengannya kurindui.

Disela cerita-cerita dan tawa-tawa kecilnya mendadak dia tersedak dan matanya berair. Tapi kemudian matanya benar-benar berair, dia menangis. Dengan pipinya yang mulai basah dia melirik laki-laki di atas ranjangnya, lalu memandang padaku lama sekali. Dia sudah menjeda kedua bibir indah itu hendak mengucap sesuatu, namun sebelum dia melakukannya, aku bangkit berdiri.

Aku menghela nafas, menatapnya, tersenyum dan mengangguk berterima kasih, bangkit berdiri lalu pergi ke pintu. Dia menyusulku memintaku tinggal sampai siang. Masih memunggunginya aku menggeleng. Aku tahu dia masih menatapku, dengan maskaranya yang sudah terlanjur meleleh dan melukis hitam kedua pipinya. Aku bilang, sungguh senang menatapmu lagi Luky, lalu aku melangkah keluar.

Cuaca memang tak bisa diramal, ditebak-tebakpun kadang salah. Dalam perjalanan pulang, hujan deras mengguyur kota ditimpali angin menderu. Aku berhenti beberapa blok dari rumah karena membantu seorang nenek-nenek turun dengan bakul besarnya yang berisi sayuran. Dia mengucapkan terimakasih dan sambil memegang payung dengan sebelah tangannya dia pergi. Aku sendiri tidak bawa payung, tidak punya. Konsekuensinya memang buruk, kaos dan jinsku langsung basah. Aku mungkin tidak perduli pada banyak hal, termasuk basah hujan seperti ini. Tapi, mungkin juga tidak semua. Karena Luky yang menangis masih di benakku.

Gedung-gedung besar berdiri angkuh seperti sedang menghina hujan. Di sepanjang blok ini adalah bangunan pertokoan, teras-terasnya sekaligus trotoar saking sempitnya ruas jalan. Aku berjalan sambil ditimpa hujan, tidak ada waktu untuk berteduh, toh tidak jauh dari rumah. Saat aku menatap lurus didekat pertigaan, aku terpana sebentar. Di seberang jalan, dua sosok yang kukenal sedang duduk berteduh di emperan toko.

Bulan dan ibunya. Dia menunduk memandang trotoar basah, curahan hujan dari atap hanya beberapa senti di depannya. Lalu apa gunanya berteduh? Ibunya berjongkok merapat pada dinding toko, memeluk lutut.

Aku menyeberang, dari jauh aku menyadari sebuah mobil kurang ajar melaju dan tampak tak akan mengurangi lajunya. Pada momennya nanti, genangan besar di jalan akan menghasilkan cipratan air raksasa. Aku berfikir cepat dan menjejak langkahku terburu berusaha mendahului mobil itu. Tepat saat aku sampai di depan ibunya yang berjongkok, aku merunduk.

Blass! Beberapa orang menjerit. Air dingin dan kotor kurasa seperti diguyurkan di punggungku sampai rambut, seperti aku kurang cukup basah. Aku lagi-lagi tak perduli. Aku menatap ke depan, berharap ibunya tidak basah oleh air kotor. Wajahnya mendongak, mulutnya menganga, rautnya seperti bertanya-tanya. Tapi matanya tidak menatap padaku. Bola matanya tertutup selaput tipis. Dia buta.

Rumahnya lebih pantas disebut gubuk. Berdiri berdempet-dempet dengan gubuk-gubuk lain di pinggiran kota, ada jauh dari perumahan susun tempatku sendiri. Aku tidak pernah mengira mereka harus berjalan sejauh itu setiap hari untuk sampai ke jalan raya. Di dalam gubuk itu hangat. Tungku yang sedang merebus air dalam kuali mulai bergolak-golak. Bulan menawariku kain kering, tapi aku sudah menolaknya. Aku pikir, aku lebih suka jika dia memintaku mendekapnya…

Ibunya bergumam-gumam sambil meraba-raba sebuah lap, ingin mengangkat kuali dari atas tungku. Bulan membantunya. Dia bilang padaku mereka hanya tinggal berdua, sudah jarang ada tamu, maka Ibunya senang kedatangan tamu, aku. Lalu Bulan melihat padaku, tersenyum, kulihat Ibunya melakukan hal yang sama. Sekarang aku tahu, dari mana cantik senyum itu diturunkan.

Aku tersenyum saat disuguhi teh. Yang ini wangi melati. Bulan duduk di depanku, di atas tikar anyaman. Sejak tadi aku tidak bisa mengalihkan padandanganku. Aku tahu betapa tidak sopan terus memandanginya seperti itu. Tapi dia seperti tidak keberatan. Bajunya yang basah belum lagi diganti, separuh kering menempel lekat di tubuhnya…

Tutur katanya baik dan teratur, terpelajar seperti kata-kata yang keluar dari bibir Luky. Tapi sambil bercerita, jari-jarinya tidak mau diam. Mencabuti anyaman-anyaman tikar yang sudah terlanjur tercerabut. Jantungku mendadak berdegub-degub saat ingin memutuskan meraih jemari itu. Hanya butuh waktu sepuluh detik untuk kemudian aku memutuskan untuk benar-benar meraihnya.

Bulan berhenti bicara. Wajahnya yang tadi tertunduk-tunduk karena terus kupandangi, sekarang menengadah. Dia menatapku lurus. Dalam matanya aku menemukan sesuatu yang beradu dengan gelegak darah dan suara meraung-raung di telingaku, mendenyut nadi dengan kencang di pelipisku. Lama dia begitu, dan terlalu lama sudah sejak aku terus-terusan memandangnya. Diluar kendaliku aku menciumnya…

Setelah kejadian yang terlalu cepat itu dia berdiri, menuju sebuah ruangan yang hanya ditutupi kain sebagai ‘pintu’. Bermenit-menit aku menunggunya. Aku melirik pada ibunya yang sekarang sedang meraba-raba piring kotor untuk dicuci. Aku melirik lagi ke ruangan yang tadi. Dia belum keluar juga. Mungkin dia marah padaku, atau…

Aku berdiri, melirik untuk kesekian kalinya pada ibunya. Dia masih menggosok-gosok panci dan duduk memunggungi. Dalam hati aku tertawa, kau berharap dia melihat apa?

Aku membuka kain penutup ruangan dan melihat Bulan duduk di atas ranjang tak berkasur dengan hanya mengenakan sarung. Bahunya yang kecil ditutupi helaian rambut hitamnya yang panjang dan menggumpal karena basah. Saat aku ingin melangkah mendekatinya, dia bilang aku tak seharusnya menciumnya. Aku tanya kenapa, dia hanya diam. Saat aku ingin menyentuh rambutnya, dia berdiri dan membiarkan sarungnya jatuh hingga ke lantai. Saat dia berbalik, dia bilang karena dia lelaki dan aku perempuan…

 

Bandung, 2006

Status

DRAGON RIDER

#30harimenulis – day27

Neytiri: ”To become Taronyu Hunter, you must choose your own Ikran and he must choose you.” –Avatar 2009.

Apa cita-cita saya waktu kecil? Standar, mau jadi dokter. Apa cita-cita saya pas sudah besar? Mau jadi Penunggang Naga, simple like that.

Tiga dari sepuluh novel yang saya punya akan memiliki konten tentang naga. Tujuh dari sepuluh film yang saya tonton akan punya binatang naga di dalamnya. Jadi bayangkan berapa sering saya ke bioskop? Rare. Saya benar-benar tidak bisa menikmati plot seperti New Moon. Walaupun ditonton tiga kali dan dua dari tiga itu dibayari, saya selalu tertidur di tengah-tengah film. I got expiredly expired, fell miraculously on my chair and was a dissapointment movie-mate. Premis ini berlaku buat semua film serupa.

Mungkin saya hidup di paralel yang salah, tapi Indonesia sendiri kaya akan mitos binatang ini. Di Kalimantan dan Bali, kita akan dengan mudahnya menemukan gerbang-gerbang dan tangga-tangga pada museum, ukiran yang merupakan perwujudan naga. Bentuknya lebih mirip ular yang sangat besar dan bermahkota.

Ada bacaan tentang naga yang sangat saya gilai. Beberapa pastinya mudah ditebak karena semua orang membaca The Hobbit, Eragon, atau Hiccups Horrendous Haddock III dengan How to Train Your Dragon. Semua juga pasti nonton Avatar -dimana ini adalah tontonan dewasa berhubung mahluk birunya bukanlah Smurf, lalu ada juga Reign of Fire (tho I score this one 6 out of 10), atau kalau suka nonton seri Merlinwell, it only has one dragon and I have no idea what its name, even when it has been mention a few times. I have short memory like that.

Naga paling epic buat saya adalah tunggangan para Nazgul, and in this case: The Witch King of Agmar. If I rode that fell-dragon kin, I’m (most likely) gonna be as nasty as The Witch King himself. Kicking ass on my steel armor dragon and hovering around in my best darkest spikey suit, put on thrilling thorny-iron helmet –this as well as to keep safe on a ride, hey-poking everyone with my sword as I pass them. Ahhh… what a good life..

I would probably most-fit to live in Berk in Hiccup’s time line or era. I may want to have a Night Furry for myself because he’s fast and look more like a black cat. Damn I love cats.. dragon cat..

Naga paling banci buat saya adalah Shafira. Ya okelah anda seekor naga betina ya bu, tapi mana wibawa sebagai spesies yang paling ditakuti? Sound like a girl, bats lashes like girls, thinks like girls! By Merlin’s beard, woman!

Now, I don’t know have any of you did or not yet read, a book entitled The Dragonology Chronicles. Buku ini mengulas lebih detail tentang naga dan spesifikasinya: rangka, postur, kebiasaan, kemampuan terbang, may or may not breath fire or just smoke (fire later?), jumlah kaki, warna sisik, origin, pemilik, hingga pemetaan keberadaan mereka. Penelitian tentang mereka dimulai dari seorang Dragonist bernama Bapak Dr. Ernest Drake, dan kita bisa membaca semua risetnya dari catatan Dragon Diary beliau. Buku yang saya punya adalah yang pertama: The Dragon’s Eye dan berbahasa Inggris.

Dr. Ernest Drake menyinggung tentang naga yang mudah dikenali originnya dari bentuk dan warnanya. Misalnya Sherpent adalah naga berbentuk ular, tidak punya sayap tapi memiliki sepasang kaki depan dan belakang. Naga seperti ini mudah ditemui di Eropa Utara, dan sepupu jauhnya berada di Asia dengan perbedaan bahwa ’ular’ naga asia bisa terbang walaupun tanpa sayap. Naga origin Eropa biasanya lebih kecil ukurannya, bersisik kemerahan atau kehijauan gemerlap dan bisa menyemburkan api, memiliki kemampuan terbang dengan sayap besar maupun kecil.

Saya menemukan buku ini di rumah Bapak-Ibu saya hari Kamis minggu lalu dalam box dengan label: jangan dibuka sampai aku pulang. Tanggal pembelian adalah Agustus 2011, dan saya yakin sudah pernah membaca buku itu sampai habis. Pada halaman-halamannya saya meng-hi light semua informasi mengenai naga yang dibahas di buku itu. Jika saya bisa menemukan jurnal 2011 saya, kemungkinan besar saya akan menemukan bahwa saya membuat tabel tentang nama, origin dan keterangan lain tentang hal-hal yang saya hi light itu disana.

Note: I’m sorry it sound hilariously funny but I did mapping about things like that. I have one journal dated 2013 full of Quenya and Sindarin alphabets in it and a few pages hand writing (most likely something I don’t want anyone to know about) in Elvish. Not the language, just using their alphabets. Unfortunately, I may not even able to read that too. I already forget most of it but ones I use for my name (ha!) because I’m still using it -the alphabet of vocals, nd, and nt. Like this one below from my mural in 2015.

20161106_055049000_iOS

When I have my iPad from a friend for my birthday two years ago, it was because he wanted me to draw but not on canvas or drawing book. He installed for me an apps in there, named ProCreate and asked me to draw my dragons. Inilah naga kedua yang pernah saya gambar. Satu scene lain yang adalah tantangan buat saya dari kawan tadi adalah membuat karakter yang sama dalam scene yang berbeda. So, first pic on the left is Drogo and the second one on the right is Drogo and Kyro in Summoning Drogo. And yes honey, I named my dragons like a proud mommy.


Diclamir: the sketches are my original work.

Status

HI – BYE

#30harimenulis – day26

I was born in this administrative district in East Kalimantan. This town has changed alot each year I came back. Telah berubah banyak dari struktur hutannya dilihat dari udara dan struktur kotanya dilihat dari darat. One thing that hasn’t been change, is the cleanness of it. Ooh that bright blue sky with fluffy fat clouds and crystal clear vision as wide as the eyes can see. Nothing compare to any other cities in Indo. Of course, some are just cooler than this.

Saya punya waktu lima hari untuk bersilaturahmi dengan semua keluarga saya di kampung halaman. Liburan kali ini sangat singkat karena satu dan lain hal. Tapi tidak berarti saya tidak menikmatinya. Kadang menjejal waktu lima hari untuk mengunjungi seluruh keluarga besar di kota ini terasa bagaikan game tentang mencetak skor dan penyelesaian seluruh challange yang diberikan dengan batas waktu.

Semua guru-guru, mbah-eyang, tante-tante, om-om, mantan-mantan, punya porsi dan prioritas masing-masing dalam dunia pesilaturahmian –and if that even a word. Intinya, waktu lima hari menjadikan the eyangs, oms and tantes prioritas. I love my big family. We are so dramatic and full of gossip we can end up having our own opera soap show that last for 10 seasons. What else that sounds good about visiting them all over the town? Motor pinjeman dari salah satu sepupu yang bisa dibawa ngebut. Dengan si vario 150 ini, jarak 3km bisa cuman 10 menit. Kekurangannya hanya satu; jika bawa nyokap, jarak 1km bisa 10 menit.

Hang outs dengan sepupu-sepupu yang sudah mulai dewasa juga jadi ajang update kegiatan kami saat tak bersua setahun. Jumlah kumpul sepupu mengalami penurunan dari tahun ke tahun disebabkan pernikahan-pernikahan. Beberapa tahun yang lalu kami bisa kena marah karena keluyuran hingga jam dua pagi! Masing-masing kami akan menjual nama sepupu yang pergi bersama itu agar bapak-ibu kami tidak rewel dan kepo terus-terusan. Tahun ini, yang baru pada menikah kami biarkan hang out dengan istri-istri barunya. Sisanya -termasuk saya yang tak beristri (karena saya perempuan), hang out bersama sambil ngobrol panjang lebar tentang liquid vaping dan metode brewing kopi. Topik terhangat 24 bulan belakangan, di The Secret Councils of Cousinity. Secret karena para ortu masih menganggap kami bayi dan selalu ada larangan merokok.

All the fun must come to an end pada hari kelima. Sayapun kembali mengunjungi eyang-om-tante, kali ini to say bye-bye. Kegiatan kunjungan bersifat singkat, namun tidak berarti lepas dari dijejali kue sisa lebaran. Tehnik menolak paling manjur adalah saya bilang bahwa saya sedang diet karbohidrat. Disamping kami akan punya bahan obrolan mengenai diet karbohidrat, kebanyakan tante saya senang sekali mendengar saya sedang diet. And I enjoy to pleased their ear. I was ready and not ready to leave and something in between before my plane took off yesterday afternoon. Unsure which one I like the most: the HIes or BYEs?

Status

EID 1,031 KM

30harimenulis – day25

taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.. (Semoga amalanku dan amalanmu, puasaku dan puasamu diterima oleh Allah)..

Tahun ini saya harus sekali lagi merelakan tidak merayakan idul fitri pertama di rumah. Bedanya memang sangat signifikan. Tidak ada yang mengguncang-guncang saya bangun, yang ada saya dibangunkan alarm sholat subuh. Tidak ada bokap-nyokap untuk disungkemi selesai sholat. Tidak ada harum makanan yang menyeruak diseisi rumah. Tidak ada takbir yang menggema disetiap sudut jalan, hanya saat mendekati masjid saja.

Disini, berhubung muslimnya minoritas, jamaah tiga desa muat dalam satu masjid. Proses sholat khusyu maksimal tanpa jeritan histeris anak-anak yang berkesinambungan mengalahkan panjangnya menit yang dikerjakan untuk dua rakaat. (No offense for moms with babies who read this). Imam membaca surah panjang, dan diucapkan lambat-lambat. Di akhir sholat saya tak sanggup lagi menahan air mata saat salam, karena saya tidak mendapati ibu, kakak atau keluarga  yang ada di kiri dan kanan shaf saya pagi itu.

Selesai sholat, bapak pengurus mengumumkan bahwa kami diminta untuk berdiri berbaris di luar selesai khotbah karena akan diadakan salam-salaman. Dalam hati saya tersenyum. It was so sweet. Nobody ask things like that back home, karena biasanya setelah sholat semua orang satu lapangan sudah tidak sabar untuk kabur. Takut terjebak macet saat hendak keluar areal, ada yang sudah dijanjikan kedatangan tamu penting, ada yang harus kumpul karena akan mengunjungi keluarga jauh bersama, ada yang sudah tak sabar mau bertamu, ada yang sudah lapar, pokoknya macam-macam dan buru-buru. Kind of me that day: saya memutuskan tidak ikut berbaris salam-salaman dan langsung kabur sehabis khotbah. Mata saya bengkak bulat sehabis ceurig-cirambai. I can not be among people when I’m looking like that!

Mungkin karena kabur dari acara silaturahmi dengan jamaah lain, sebelum memacu motor jauh dari tempat parkir, mendadak turun hujan. Kalau saya berhenti dan berteduh, saya ada diposisi tempat berkumpul para hadirin halal-bihalal. Jadi walaupun sudah berkostum idul fitri yang hakiki, cetar melambai nan paciweuh gegara kehujanan, sayapun tetap pergi. Now I wrote this, actually I feel bad, it wasn’t nice getting away from everyone just because I had puffy eyes..

Jadi ternyata seharian hari itu hujan melulu. Saya menghabiskan setengah jam untuk bicara dengan semua orang ditelfon sambil bikin latte kesukaan saya. Nikmat ya bisa ngopi pagi-pagi lagi. Tante saya menelfon duluan dan telfonpun beredar ke bapak, ibu, om, mbah ti, sepupu dan semua yang sedang ada diruangan sana (yang tidak sedang pegang piring atau sedang sungkem). Saya bisa mendengar suara riuh tawa dan pekikan-pekikan nada tinggi khas sapaan dan respon kala lama tak berjumpa satu sama lain. Setelah tiga puluh menit, semua orang sudah memenuhi absen.

It’s not really that bad. Karena ada teknologi selular, saya bisa tetap silaturahmi, walau bentuk temu raganya harus ditahan sedikit. Kalau dulu, tidak ada alasan tidak bisa pulang atau tidak mau pulang, karena bokap pasti sudah membelikan tiket. #curcolmaksimal. Sekarang, bener-bener deh, yang muat budget adalah penerbangan dimana lebaran udah basi. Gini ya rasanya sudah dewasa. Tiket harus beli sendiri, sudah sampai rumahpun kadang ortu kalaka rudet olangan ku cucu. Hilang sudah masa keemasan saya sebagai anak bungsu yang selalu dicari-cari dan dikabul-kabulkan titahnya.

Paling tidak saya tahu bahwa esoknya saya sudah ada di rumah. Pikiran itu menghibur hati, mengganti deru rintik hujan menjadi gubahan jazz lounge kesukaan saya.

 

Status