The Conjoined Twin

30harimenulis, 24 Juli 2018 | day30 word count: 300

Bagaikan conjoined twin, suka menulis tidak mungkin tidak suka baca. Suka membaca, bisa jadi tidak bisa menulis. Namun, kemungkinan itu kecil, karena percayalah posting fesbuk itu kan harus dikarang!

Menulis.
Menulis itu mudah, tinggal menuangkan apa yang kita lihat dan rasakan, jadi deh status fesbuk. Ingin yang lebih serius? Memperhatikan tata bahasa, menggunakan kosa kata baku, dan memberi struktur pada tulisan, jadilah tulisan kita tydac asal-asalan. Masih penasaran bagaimana seseorang bisa menulis dan membuat pembacanya terus membaca karena alurnya sangat asyik? Biasanya kekepoan itu diteruskan dengan belajar menulis. Kursus online atau offline, atau (lagi-lagi) perbanyak saja membaca dan gigih meng-gugel.

Agar bisa menconteng satu kotak lagi dalam daftar #2018lifegoal -dengan tulisan yang orang rela baca, lakukan sesuatu yang #greget, #tydacmainstream dan #hardcore: menulis 30 hari penuh. Lurus 30 hari, kalau bisa jangan bolong. Adminnya sih timbul tenggelam, bagai orang tua meninggalkan anak-anak tanpa supervisi, berhari-hari. Namun tidak masalah, 30 hari itu kan panjang loh, jadi orang tua asuh buat 50 anak selama 30 hari bisa bikin #amsyong tauk. Forgivable.

Membaca.
Membaca itu lebih mudah, karena kita sesungguhnya tidak pernah berhenti melakukannya. Kita senantiasa melihat tulisan; label pada kemasan, iklan cetak, meraih buku, koran, atau majalah. Membaca postingan di 30HM saja sudah banyak sekali, bukan? Saking banyaknya, kadang buku bagus yang terlanjur terbeli bulan lalu, tidak sempat dibaca. Satu-satunya halangan adalah memutuskan untuk tidak membaca.

Irma Susanti dalam salah satu tulisan blognya bilang bahwa membaca seharusnya bukan hobi, tapi habit atau kebiasaan. Buat orang bule, tambahnya, punya perpustakaan itu biasa, bukan sesuatu yang eksklusif. I couldn’t agree more. Kita tidak pula kekurangan penulis yang memberikan artikel tentang manfaat membaca.

“If you don’t know anything about a subject, then pouring words of text into your mind is like pouring water into your hand.” – Donald Martin, 1991, How to be a Successful Student.

Advertisements
Status

PROFILING: FU FIGHTERS (II)

30harimenulis, 23 Juli 2018 | day29 word count: 310

Isabis Bahati.
Yang berarti beautiful and lucky. Isabis adalah anak ketiga dari lima bersaudara, dan adalah cucu ke-4 Master Fu dari anak keduanya. Adik dari Amari Iman ini merupakan satu-satunya perempuan yang mau bergabung dalam Fu Fighters untuk memulihkan kembali kejayaan klannya. Sejak kecil adalah pengagum berat Amari, dan selalu ingin bisa melakukan semua yang dilakukan kakak laki-lakinya itu. Kemampuannya menunggang kuda tanpa pelana dan ketepatan 90% lontaran belati pada sasaran, memberinya kekhususan yang tidak dimiliki anggota lain. Keahlian ini dilatih sendiri oleh Ayah mereka, Dakarai Fabumi.

Amari Iman.
Yang berarti possesses great strength and faith. Seperti sepupunya Kellan, dongeng pengantar tidur tentang Klan Fu adalah kesukaannya saat masih kecil. Cerita tentang penjelajahan, penaklukan, pertarungan-pertarungan kesatria, pencarian-pencarian harta terpendam, cerita-cerita tentang koleksi harta-harta bernilai milik Klan Fu, dan kekuatan-kekuatan yang dimiliki benda-benda itu, diingatnya sampai dewasa. Tetsuo adalah salah satu yang menjadi obsesinya. Benda itu hilang dari Klan Fu lebih dari 35 tahun. Amari menghabiskan waktunya membuka gulungan-gulungan perkamen di perpustakaan, jika tidak sedang berlatih bersama adik dan teman-teman Fu Fightersnya. Dia, Kellan dan First adalah pencetus lahirnya Fu Fighters.

Mosi.
Namanya berarti born first. Anggota termuda Fu Fighters ini adalah anak pertama dari Odion, panglima perang Klan Fu pada masa kejayaannya. Keahlian Mosi akan ilmu pedang, diajarkan sendiri oleh Odion. Odion selalu punya lebih banyak katana dikarenakan oleh profesinya. Setelah Klan Fu dinyatakan bubar, Odion memutuskan menurunkan ilmu dan filosofi pedang pada Mosi. Dengan pengetahuan dan kemampuan sempurna Mosi menguasai berbagai jenis katana tersebut, Master Fu menempakan untuknya sebuah katana dengan dua sisi tajam. Hadiah yang beliau berikan pada Mosi saat perayaan tahun kedua Fu Fighters.

FU FIGHTERS.
Ketujuh Fu di atas adalah anggota pelopor. Bersatu karena ikatan mereka yang unik secara alami, seperti kemampuan-kemampuan bawaan mereka. Ketujuh Fu adalah kebanggaan Master Fu. Harapannya untuk masa depan mereka semua, memulihkan martabat klan -dengan satu fokus: Tetsuo.

Status

PROFILING: FU FIGHTERS (I)

30harimenulis, 22 Juli 2018 | day28 word count: 400

First Davu.
Davu berarti beginning, atau permulaan. First bergabung dalam Fu tanpa rencana dan basa-basi. Kisahnya dimulai sebagai bayi kecil yang ditinggalkan kelaparan dan kedinginan di depan gerbang Fu. Gerbang yang sudah tak terawat dan dipenuhi belukar. Jika saja pada malam kedua bayi itu tidak menangis, mungkin Master Fu tak akan pernah membuka gerbangnya. Lebih dari setahun gerbang itu tidak lagi dipakai untuk keluar-masuk, mengisolasi sisa Klan Fu yang berada di dalamnya. Dibesarkan oleh Master Fu sendiri, First adalah bagian penting dari masa depan Fu. Saat berumur 16, First dianugrahi nama belakang, Davu, karena First mengajukan diri untuk menjadi pengabdi Klan Fu dan berjanji mengembalikan kejayaan Fu hingga nafas terahirnya.

Jabir.
Namanya memiliki arti comforter, atau sang pemberi kenyamanan. Jabir berperawakan besar, tinggi menjulang, berkulit hitam, bermata kecil namun tajam, bersuara berat namun lembut. Jabir bergabung dengan Fu saat Master Fu membuka pintunya untuk menerima murid-murid yang akan dilatih menjadi pejuang. Jabir adalah kesukaan Master Fu, cenderung karena ia dan First menjadi akrab, segera setelah latihan pertama mereka. Tekko-kagi adalah senjata kesukaan Jabir. Tekko-kagi adalah cakar besi yang disematkan pada tangan dan berfungsi melukai musuh dengan pertempuran tatap-muka. Seperti dugaan kalian, adalah cara bertempur kesukaan Jabir.

Olu Femi.
Bernama asli Kimoni Ekon (strong great man). Olu Femi -yang berarti beloved of the Gods, diberikan oleh Master Fu sebagai gelar luar biasa atas kemampuan Olu dalam mengolah Chi (qi). Tidak ada yang menjadi bandingan Olu dalam membangun dan menggunakan tenaga Chi dalam pertarungan. Kecepatan pembentukan Chi-nya begitu alami tanpa kesukaran, bagaikan dia terlahir dari energi itu sendiri. Sepanjang sejarahnya sebelum bersama Fu, Olu Femi hidup bersama para biksu yang tinggal di hutan-hutan lereng gunung di Burma. Bermeditasi dan berlatih memelihara Chi adalah formula hidup damai bagi Olu, mengayunkan katana hanyalah semata untuk mendamaikan ambisi lawan.

Kellan Abena.
Kellan berarti powerful, dan Abena berarti born on Tuesday. Kellan Abena adalah cucu Master Fu yang ke-11 dan yang memiliki ketertarikan tidak biasa atas sejarah Klan Fu. Dirinya sendiri lahir dua dekade setelah Klan Fu dianggap bubar. Semua cerita sebelum tidur dari kakeknya membuat ia selalu ingin memiliki kekuatan untuk membangun klan yang selalu disebut-sebut dalam dongeng itu. Dia, kedua sepupunya; Amari Iman dan Isabis Bahati, serta First Davu adalah yang pertama mendorong kakek mereka untuk membuka kembali rumah Fu untuk dijadikan arena latihan bela diri. Langkah kecil untuk mengembalikan kejayaan besar Fu.

 

continue reading: PROFILING: FU FIGHTERS (II)

Status

Them Beach-Kultur

30harimenulis, 21 Juli 2018 | day27 word count: 1000

Let me stressed today’s article on beach culture -which I prefer to use K to replace C on culture, because it’s the IT. Telltale that we are all exposed to many different social values, yet we are very often to interpret it all with our culture scale. This specific topic may also one of the few, that we tend to loosen our tongue to criticise, to judge. Anyway, who does not judge? I’m on Luvvie Ajayi’s side, ever since she launched her book: I’m Judging You. We would be a ‘yay-sayer’ to her do-better manual -at least I am. *icon ketawa sampe nangis*. Thus, this article dedicated to all my little minions, who live and judge inescapably, like crabs in a bucket.

Between Culture and Individual Ethics.
Ceritanya saya duduk di luar kafe, menyeruput manggo lassi sambil mendengarkan sepupu saya dan temannya bergosip. Namanya duduk menghadap jalan, kendaraan lalu-lalang sudah biasa dong? Yang tidak biasa adalah yang berkendara.

Mohon maaf untuk deskripsi yang mungkin terlalu graphic berikut; di sini, bule saat naik motor dari dan ke pantai hanya bercelana dan berbeha bikini. Cowok-cowoknya nggak beda jauh, mereka doyan mengenakan ‘celana gemes‘ (read: slightly below-chicks speedo). Dengan demikian, topless itu b aja.

Teman sepupu saya yang sedari tadi memang tidak berhenti mengomentari setiap orang yang lewat: baju renang motif totol leopard yang menurutnya mencengangkan, dan banyaknya pantat-pantat putih polos atau bertato yang seliweran di depan mata nggak ditutup apa-apa. Itu belum semuanya, kritik dan penilaian masih merambat pada cara gas-rem motor yang kadang berakhir meriah dengan masuk selokan atau nabrak pohon, sampai menekan klakson hanya untuk mengusir anjing nyebrang.

Teman yang satu ini bule, dan dia keberatan (walau tydac harus diet) dengan sikap ‘tamu’ yang datang mengunjungi Bali. Menurutnya, tidak bisa dianggap ‘boleh-boleh saja’, jika bule keluyuran di luar rumah half-naked. Sekalipun dekat pantai yang hanya selemparan kolor, ini tetap ‘rumah’ orang, desa pula.

Dia menambahkan bahwa di negara asal mereka, orang tidak berbuat demikian. Mereka akan menggunakan baju pantai; tank-top dan celana pendek, gaun panjang yang mungkin tembus pandang, atau mini-dress, atau paling tidak sarung pantai. Mereka tahu, begitu yang seharusnya. Bagian yang parah (dan menyedihkan) adalah saat masyarakat kita, berbondong-bondong setuju jika orang bule memang tidak doyan pake baju. Di rumah, di luar rumah, musim panas, musim panas di negara orang, pokoknya ga doyan pake baju! Nah, itu kata siapa? Kata Sotoy? Apa kata Bokep?

Being Stereotyped.
Pedoman berpakaian pantai di Indonesia juga tidak bisa dibilang unik: they (well, okay, WE), jump to the water fully dressed! Setelah melepas kacamata, jam tangan dan mungkin mengeluarkan dompet dan hape dari saku, kita berlari ke pantai (kemudian teriakku sepi). Melihat banyak orang lokal berenang dengan kaos dan celana jins seperti itu, semua orang bule menganggap KITA aneh.

Padahal nggak semuanya begitu. Saya tahu banyak orang Indonesia pakai baju renang saat berenang di kolam umum dan pantai. Saya juga punya baju renang, walau tidak untuk dipakai berenang, karena saya tidak bisa berenang. Perangkat itu dipergunakan untuk memenuhi identitas ‘poser‘.

Sedikit OOT (out of topic) tapi punya cukup keterkaitan; orang Bali pada jaman old doyan topless, laki-laki maupun perempuan. Lihat saja pada semua lukisan di museum seni dan atau lihat kumpulan foto pada instagram Rio Helmi tentang Bali. Perempuan-perempuan Bali yang sudah jadi dadong (nenek), mereka terbiasa jalan di pekarangan atau depan rumah mereka topless. Hanya karena beda budaya, saya dan sebagian kalian mungkin akan menundukkan pandangan, atau mungkin berusaha untuk melihat lurus pada dahi -bahkan bukan pada mata, saat harus bertegur-sapa.

Walau demikian, kita menganggap berenang ke pantai dengan hanya menggunakan bikini itu terlalu ‘kebarat-baratan’. Kita cenderung membebankan kesan negatif pada diri sendiri saat mendapat kritik orang lain. Terhadap budaya kita yang terlalu ‘malu-malu’, terhadap kurangnya keterbukaan kita dalam menerima (dan berpendapat), terhadap apapun yang akarnya bukan berasal dari timur.

Banyak teman-teman lokal di sini yang saya tahu masih melebel orang kita sendiri ‘liar’ jika berpakaian terlalu terbuka. Now hold on; we DO have a context on dress code. At some certain degree it is improper. But imagine how often we actually get stereotyped for being properly dressed for the occasion?

Beach-ing Our Life Out.
I meant to say ‘bitch’. Garing kan bullet-point nya? So it’s bitching our life out: ngedumel. Karena kami terganggu dengan kelakuan mereka yang semena-mena. Seperti Crissy yang walaupun bule tetap merasa bule-bule itu berlaku tidak pantas, but probably the same as them bitches may think that ain’t our shit to judge. Tidak ada yang punya waktu sepuluh menit untuk mendengar kotbah tentang berperilaku dan bersikap di Bali, unless you are Lonely Planet.

Ada perilaku yang disahkan berjamaah, kemudian menjadi ‘budaya’. Bulewan-bulewati meneruskan berbikini dari rumah ke pantai  karena para lokalwan-lokalwati tidak mengajukan protes, bahkan menganggap itu wajar. Nah, ini jarak rumah ke pantainya bisa jadi 1,5 km loh, yang artinya melewati sawah lapang, perumahan penduduk, sekolahan SD atau TK, pasar, dan segerombolan tukang bangunan!

Life doesn’t usually come with manual,” menurut Ajayi, dan saya (lagi-lagi) setuju. Kitapun melalui kehidupan ini dengan cara terbaik yang kita tahu, as she also said. Tapi untuk sebagian besar cross-culture collapsion yang sedang hangat-hangatnya ini, saya membayangkan manfaat peraturan yang dipaku ke dinding oleh Dolores Umbridge. Applied to whole Desa Tibubeneng with its 13 banjar, so we can stop bitching.

My Two Cents.
There’s no such a beach like life elsewhere but Bali. It only because their beach culture adopted and maintained by each other’s perspective and perceptive. It was never once a habit. Alas, one simply can not bitch about why tourist driving around with bikinis, but don’t say anything about it to them for they’re being guest to Bali themselves. As the locale being the host, and too restless to say they can not say it because these people bringing them mullas. Being ethical means we know how to carry ourselves cross-culture, being sensible enough to criticise without judgment. Either beach culture or any other culture-cramp we may experience, there is no different in being an individual here or there but our tolerant and respect towards others.

Status

Gwara Map

30harimenulis, 19 Juli 2018 | day25 word count: 744

First berdiri. Keenam Fu-nya menatap pada peta di atas meja yang ditunjukknya dengan jari. Peta itu besar, berisi cetak biru benteng Klan Gwara, digambar dari atas. Pada sisi lebar peta, tergambar tiga ruangan penting dengan posisi mata burung, masing-masing berada dalam kotak-kotak terpisah.

“Jalur masuk,” kata First. Jarinya menunjuk kotak kecil paling atas. “Sisi utara gerbang utama, adalah dinding batu, benteng pertahanan paling luar mereka. Di dalamnya, ada hutan kecil yang memisahkan tembok dan bangunan pertama.”

Keenam Fu mengangguk mengerti.

“Isabis, teruslah bergerak melewati pohon-pohon itu hingga bertemu pilar pertama bangunan. Pelataran berpilar itu cukup terbuka, namun kau bisa terus berlindung pada bayang pohon jika kau merapat dan melewati pilar demi pilar. Lampu-lampu mereka akan disorot ke luar, bangunan itu sendiri berlorong dan cukup gelap untuk terus merayap.”

Isabis mengangguk.

“Mosi, kau adalah perisai Isabis sampai kita semua sampai di depan kandang.”

Mosi mengangguk.

“Kandang,” First menunjuk peta utama. Jarinya berada pada lingkar tengah yang tampak seperti gigi mekanis dua lapis dengan jarak empat jarinya pada setiap lapisan. “Leopard,” dia menunjuk lingkar gigi paling luar, kemudian menggesernya maju, “serigala, dan ruang ini adalah kolam berisi buaya.” Jarinya mengetuk pada lingkar paling kecil sebelum berada di tengah-tengah peta.

Keenam Fu mengangguk. Klan Gwara dikenal memiliki benteng perlindungan dengan penjagaan terbaik dan juga efektif. Jumlah mereka tidak banyak, tapi kombinasi keterampilan dan strategi perlindungan mereka adalah formulasi eksistensi mereka yang sudah lebih dari 125 tahun. Tidak ada yang belum pernah mendengar tentang ‘ruang rekreasi’ Gwara. Benteng di dalam benteng. Benteng yang unik karena tidak dipenuhi penjaga, melainkan binatang-binatang yang dibiarkan buas. Konon, yang meletakkan Tetsuo di gazebo tidak pernah kembali lagi.

“Leopard tidak berburu dimalam hari. Jika kita mengendap, kita bisa melewati bagian ini dengan mudah. Kandang mereka berbatas kerangka besi yang bisa dipanjat. Kita akan melakukannya dua-dua-tiga. Isabis akan disusul dengan Mosi. Aku akan menyusul di belakang kalian bersama Olu. Kami akan disusul Jabir, Kellan dan Amari.” First memperhatikan keenam Fu-nya yang terus memperhatikan peta.

“Serigala aktif dimalam hari, dan mereka sangat sensitif terhadap gerakan. Insting mereka akan membangunkan semua kelompok untuk mulai berburu, pada waktu kapanpun. Kolam dibangun tanpa pembatas dengan lingkungan hidup mereka, dan sama seperti mereka, buaya akan mulai terjaga jika merasakan air beriak.”

Mereka mengangguk-angguk dengan dahi berkerut sambil terus mendengarkan penjelasan First.

“Selagi kami berenam menahan gerak binatang-binatang itu, sebisa mungkin kau Mosi, harus menjadi pelontar Isabis hingga bisa melompati kolam sepanjang tujuh meter itu.”

Otot-otot Isabis menegang.

“Kellan, bawa katana dan bo-kenmu, tukarlah bo dengan kunai Isabis di kandang serigala. Isabis akan menggunakannya sebagai galah untuk membuatnya tetap berada di atas air setelah lontarannya. Kemudian, Isabis, berayunlah untuk mencapai ujung kolam.”

Isabis mengangguk mengerti, Olu mengangguk padanya. First mengangkat sebuah Fukiya, benda seperti seruling bambu yang sedari tadi berada di sabuknya.

“Fukiya. Masing-masing akan membawa ini dan akan dilengkapi dengan dua buah panah kecil yang dilumuri obat tidur. Berjaga-jaga jika kita harus menggunakannya kepada binatang-binatang itu. Ini tidak akan berhasil pada reptil karena struktur kulit mereka. Tapi mereka lamban di atas air, kita akan baik-baik saja.”

“Dan Tetsuo?” Tanya Jabir.

“Tetsuo berada di tengah gazebo,” First menunjuk kembali pada gambar kecil di sisi lebar peta. Gambar itu menunjukkan sebuah gazebo semi-terbuka yang dikelilingi kolam. “Bentuknya seperti setengah bola, tembus pandang namun berpendar putih susu dan biru. Seharusnya, Tetsuo adalah satu-satunya benda yang berada di sana.”

Mereka semua mengangguk.

“Setelah kau ambil Tetsuo, kaitkan talimu di pilar gazebo tertinggi, Isabis. Lemparkan ujungnya kepadaku, begitu caramu kembali nanti.”

Isabis mengangguk.

“Jika aku atau kami semua tidak ada yang meraih talimu, di seberang gazebo pada sisi barat terdapat pohon. Gunakan sai untuk melilit pokoknya.”

Isabis mengangguk lagi.

“Lahan berisi dua belas binatang ini sangat luas.” First menatap pada petanya. “Jika kita beruntung, hewan-hewan itu akan menyebar pada lingkar mereka selain jalan masuk kita. Sejauh ini, jalur-jalur utara aku anggap lemah, hingga mudah disusupi. Tapi binatang bukanlah manusia, mereka tidak akan menunggu untuk menyerang. Jadi, tetaplah berhati-hati nanti, teman-teman.”

“Berapa lama waktu yang kita punya?” tanya Olu Femi.

“Total keseluruhan adalah satu jam, masuk hingga keluar. Jalur keluar alternatif,” jarinya menyusur peta lagi dan menunjukkan kotak kedua di sisi lebar peta. “Melewati sisi timur. Jalan itu lebih singkat dan menuju kembali pada gerbang utama, namun kita akan berada di ruang terbuka tanpa perlindungan. Strategi ini akan dimatangkan dalam seminggu.”

Kellan Abena meraih gelasnya. “Untuk Fu,” sulangnya menjunjung gelas tinggi-tinggi. Keenam Fu di ruangan itu meraih gelas masing-masing dan mengangkatnya juga. Pekerjaan mereka belum usai sampai Tetsuo menjadi milik Fu.

Status

BRAND NEW OLD

30harimenulis, 18 Juli 2018 | day24 word count: 666

Pertama kali punya sosmed (bahkan jauh sebelum dia disebut sosmed, yang kemudian adalah kependekan dari sosial media), adalah saat yang mungkin semua orang tidak pernah lupa. Saya yakin, seluruh dunia saat itu pun sudah siap dan bersemangat untuk saling terhubung. Mengetahui lebih banyak dan menyelam lebih jauh dan lebih intim pada pilihan fokusnya. Bisa jadi tentang sebuah kelompok musik, literasi, sejarah, bahkan nama-nama kota yang belum pernah mereka (dan saya) dengar dan teliti di Ensiklopedia.

Tidak ada yang salah dengan Yahoo! Messenger atau mIRC, tapi Friendster dan Twitter menjadi salah dua pada masa awal sosmed, yang mempopulerkan sesuatu dengan cepat. Seperti semua orang (mungkin?), saya dikelilingi oleh orang-orang yang menggunakannya dan semua memberi tanggapan positif tentang penemuan baru itu. Seorang gebetan lebih dulu punya Twitter dan menyarankan saya untuk punya juga. He didn’t have to wait actually, coz I was gettin’ it right on. Sampai hari ini, Twitter Judiantology (yang nama akunnya sudah diganti lima kali dari nama awalnya) baru berisi 119 pengikut. So much for a 10 years old account, ya no? Garing.

Setelah Friendster, setelah MySpace, setelah MySpace Blog, setelah Hi5, setelah Twitter, kemudian Facebook, kemudian Hootsuite, kemudian Pinterest, lalu Instagram, lalu Tinder (#eh), lalu saya tersesat untuk menghitung berapa banyak sudah akun sosmed yang saya punya. Sama tersesatnya tentang beda kata sandi untuk tiap akun. Berhubung beberapa mereka juga tidak bertahan, saya pun tidak menyusahkan diri mengingat kembali kata sandinya. Saya melupakannya begitu saja seperti jemuran yang dibiarkan hingga kering. Garing.

Sosial media saya yang aktif sekarang tinggal Facebook dan Instagram. Twitter dan yang lainnya hanya ditengok setahun dua kali, seperti suntik rabies untuk Pixie dan Buddy. Semua dikarenakan perubahan yang begitu cepat dan saya malas untuk bergerombol bersama kumpulan itu. Satu, karena faedahnya berkurang. Kedua, karena susah sekali menemukan akun atau teman yang lamannya menggugah, menginspirasi, membesarkan hati, untuk diikuti atau ditambahkan.

Tentu selalu, seperti kata orang, hidup adalah pilihan, kita pun memilih dalam hal yang ini. Mungkin sekaligus juga jadi memilah. Karena ada sisi positif dari satu buah koin. Ini adalah era dimana manusia, harus kembali kepada hakikatnya; mendengar lebih banyak pada hatinya, mengekspresikannya pada perilakunya. Menggunakan sosial media untuk mengembalikan dan menyegarkan kembali ingatan dan hati, tentang apa yang pernah (atau bahkan selalu), menjadi hal yang menggetarkan perasaan kita saat kita membuka lembar digitalnya.

Perubahan yang paling epic dan yang paling saya fahami adalah penyebaran istilah-istilah baru. Dirasakan dan dialami semua orang dengan kecepatan terserang diare. Dimana semua orang terinfeksi, kehilangan sumber awal siapa yang mempopulerkan kosa kata-kosa kata tidak baku tersebut, namun terus mengkonsumsinya hingga bisa menjadi identitas dirinya sendiri. Seseorang bisa menjadi seleb dengan banyaknya kosa-kata populer yang dia bisa muntahkan dengan fasih bagai hafidz dan hafidza. Debby Sehertian is (was, already) no longer a queen of Bahasa Gaul, and that is such an old news.

Tetap disitu saya merasa sosmed berfaedah. Karena kita bisa melihat, betapa gilanya dunia kita saat ini. Oh, itu satu lagi, ‘and some people loved to be called gila, karena jaman now, gila is not always the orang gila that looses their mind’. Anywho, entah karena kecepatan penyebaran informasi, dan saringan kita masih saringan kain yang cepat bolong, salah dan benar menjadi bias. Tidak bias untuk yang ‘mengerti pedoman perbuatan baik dan benar’. Pertanyaannya adalah: which kind of living example are you for your audience (friends)?

Saya adalah penganut silver lining; there is good behind every fate. That there is always something for us to see (learn) behind someone’s absurd behavior. Biarlah, manfaatnya buat kita semua mungkin mereka ini sebagai contoh nyata, that real people don’t always do real things. That’s absolutely sad. 

World is a crazy place, datz rite, but then you can always choose to have something crazy-good to do. Misalnya nih menjadi bijaksana karena orang lain sudah memberi contoh bijaksini. Mendewasakan diri dengan berfikir kritis karena orang lain sudah memberi contoh kronis. Everything is always every things, yang kita perlu adalah kreatifitas dan ide untuk tetap kreatif.  That is a brand new old of Sosmed.

Status

Fu Fighters

30harimenulis, 17 Juli 2018 | day23 word count: 744

Sekumpulan lain dari Fu bergulung menghindar. Hantaman itu begitu keras hingga melubangi tanah tempat ranjau tadi meledak. Mereka bertujuh menelungkup di tanah, kemudian saling memandang dan mengangguk. Semua baik-baik saja dan dalam keadaan utuh. First mengepalkan tangannya di udara. Memberi tanda untuk semua Fu agar tetap diam, kemudian memberikan sinyal untuk mengikutinya maju. Satu kelompok yang sempat terpisah itu kemudian merangkak menyatu lagi.

Suara keras ranjau pasti membangunkan penjaga, mereka harus bergegas. Tanpa membuang waktu, mereka merunduk sambil terus bergerak maju. Ketujuh Fu berbalut pakaian serba hitam, mengenakan kain menutupi setengah wajah mereka, dan masing-masing membawa senjata hening. Senjata hening adalah senjata tanpa suara, ditempa berdasarkan keahlian masing-masing anggota Fu. Yang paling efektif adalah Katana bermata dua, hanya First Davu, Kellan Abena, Olu Femi dan Mosi yang punya kemampuan di atas rata-rata untuk menggunakannya.

Belati Kunai bergerigi dan Sai, dibuat untuk Isabis Bahati, satu-satunya perempuan di Fu, dan yang memiliki keahlian melempar belati sambil menunggang kuda. Jabir dan Amari Iman masing-masing memiliki Katana dan Tekko-kagi di satu tangan. Semua anggota Fu menyimpan Shuriken -senjata pipih kecil, pada semua bagian anggota gerak di tubuh.

Mereka sudah melewati setengah padang, mengendap-endap sepanjang jalur dengan sesekali mengawasi permukaan. Semakin dekat kepada titik yang dituju, semakin rumit berkelit, karena savana menipis habis sepanjang empat ratus meter sebelum gerbang yang mereka tuju. First mengangkat dan mengepalkan tangannya. Anggota yang lain berhenti dan memperhatikan. First menatap Jabir dan mengangguk padanya, lelaki hitam besar itu kemudian hilang tanpa membuat suara, mengerjakan tugasnya. Kellan dan Mosi menyusul di belakang Jabir setelah komando dari First. First sendiri, Amari, Olu dan Isabis akan mengambil jalur barat.

Setelah menit-menit yang panjang, sebuah siulan burung terdengar di kejauhan. Jabir memberikan tandanya. Keempat Fu berguling maju menuruni bukit gundul. Tanpa bulan di langit, penyusupan itu lebih mudah, namun lampu-lampu sorot mulai dihidupkan dari dalam dinding kokoh di hadapan mereka. Tanda penghuninya awas akan adanya sesuatu di luar sana, lebih dari sekedar kelinci malang yang menginjak sebuah ranjau.

Tepat sebelum lampu sorot paling besar menyala, ketujuh Fu sudah merapat pada dinding. Kellan dan Mosi sudah menjulurkan empat tali untuk mempermudah mereka mendaki dinding tebal itu. Masing-masing mereka meraihnya dan mulai berlari vertikal, disusul dengan ketiga Fu yang lain.

Langkah-langkah mulai terdengar menderap dari dalam hunian Klan Gwara. Walau langkah-langkah itu tidak terdengar terburu, Mosi dan Isabis terus berlari hingga menghilang dalam gelap pilar-pilar besar. Peta di kepala mereka masing-masing tentang jalur, sudah menempel fasih di jaring memori -peta kepada ruang penyimpanan Tetsuo.

Olu melesatkan Katana mata duanya pada dua orang penjaga yang terkejut dan tak sigap. Pedang itu dengan cepat menyayat nadi pada leher yang satu dan tusukan pada jantung satu lainnya dalam sebuah gerakan cepat. Jabir melemparkan tiga Shuriken, menghentikan tiga penjaga selagi Amari mengayunkan silang dua Katananya pada penjaga keempat. Lorong itu kembali sepi, bahkan tanpa rintihan. Hanya langkah lembut kaki First di depan yang kemudian mereka susul.

Ruang penyimpanan Tetsuo adalah ruangan semi-terbuka berupa gazebo yang pada halamannya dijaga dua belas binatang buas. Terdiri dari tiga lapis kandang, yang masing-masing memuat empat binatang. Leopard pada kandang paling depan, serigala pada lapisan tengah dan reptil pada kandang terakhir yang berdiam pada kolam buatan, dimana gazebo itu berdiri.

Jika binatang-binatang itu terbangun dan mulai membuat gaduh, mereka harus menggunakan strategi pengalihan dengan menjebol batas-batas kandang. Strategi alternatif yang tidak kalah sulit adalah menarik semua pasukan penjaga masuk ke sana dan menunggu semua binatang mendapat jatah buruan. Pengalihan yang mungkin tidak terjadi karena penjaga-penjaga itu tahu benar apa yang menanti di sana.

Siluet Isabis bisa dikenali oleh keenam Fu, bersandar rendah pada sebuah tanaman persis di depan tiang kandang pertama, siap pada posisinya. First memperhatikan sekitar, areal ini tidak diberi lampu. Itu cukup pintar. Binatang buas dapat melihat buruan mereka dengan baik walau tanpa cahaya.

Tetap saja ada yang ganjil dengan suasana hening malam itu. Penjaga seperti tidak mengambil pusing tentang suara ledakan ranjau, dan sisa mereka yang lain seharusnya sudah menemukan kawan-kawan mereka bergelimpangan di koridor. Enam menit yang lalu adalah waktu yang tepat untuk menyalakan siréne dan membangunkan seisi hunian, sekaligus hewan-hewan buas mereka. Tapi tidak ada apapun yang terjadi mengikuti semua tadi.

First bisa melihat Tetsuo berwarna putih itu dari kejauhan. Dia bisa melihat dua ekor yang menggelantung dari atas sebuah pohon, menandai letak Leopard yang sedang tertidur. Tapi kemana penjaga? Mana dengung siréne mereka? Apakah benar latihan mereka selama ini menjadikan semuanya mudah? First mengukur jauh Tetsuo lagi. Keenam Fu menunggu kode darinya.

Tapi dia harus menunggu sebentar lagi.

 

 

Status