Gwara Map

30harimenulis, 19 Juli 2018 | day25 word count: 744

First berdiri. Keenam Fu-nya menatap pada peta di atas meja yang ditunjukknya dengan jari. Peta itu besar, berisi cetak biru benteng Klan Gwara, digambar dari atas. Pada sisi lebar peta, tergambar tiga ruangan penting dengan posisi mata burung, masing-masing berada dalam kotak-kotak terpisah.

“Jalur masuk,” kata First. Jarinya menunjuk kotak kecil paling atas. “Sisi utara gerbang utama, adalah dinding batu, benteng pertahanan paling luar mereka. Di dalamnya, ada hutan kecil yang memisahkan tembok dan bangunan pertama.”

Keenam Fu mengangguk mengerti.

“Isabis, teruslah bergerak melewati pohon-pohon itu hingga bertemu pilar pertama bangunan. Pelataran berpilar itu cukup terbuka, namun kau bisa terus berlindung pada bayang pohon jika kau merapat dan melewati pilar demi pilar. Lampu-lampu mereka akan disorot ke luar, bangunan itu sendiri berlorong dan cukup gelap untuk terus merayap.”

Isabis mengangguk.

“Mosi, kau adalah perisai Isabis sampai kita semua sampai di depan kandang.”

Mosi mengangguk.

“Kandang,” First menunjuk peta utama. Jarinya berada pada lingkar tengah yang tampak seperti gigi mekanis dua lapis dengan jarak empat jarinya pada setiap lapisan. “Leopard,” dia menunjuk lingkar gigi paling luar, kemudian menggesernya maju, “serigala, dan ruang ini adalah kolam berisi buaya.” Jarinya mengetuk pada lingkar paling kecil sebelum berada di tengah-tengah peta.

Keenam Fu mengangguk. Klan Gwara dikenal memiliki benteng perlindungan dengan penjagaan terbaik dan juga efektif. Jumlah mereka tidak banyak, tapi kombinasi keterampilan dan strategi perlindungan mereka adalah formulasi eksistensi mereka yang sudah lebih dari 125 tahun. Tidak ada yang belum pernah mendengar tentang ‘ruang rekreasi’ Gwara. Benteng di dalam benteng. Benteng yang unik karena tidak dipenuhi penjaga, melainkan binatang-binatang yang dibiarkan buas. Konon, yang meletakkan Tetsuo di gazebo tidak pernah kembali lagi.

“Leopard tidak berburu dimalam hari. Jika kita mengendap, kita bisa melewati bagian ini dengan mudah. Kandang mereka berbatas kerangka besi yang bisa dipanjat. Kita akan melakukannya dua-dua-tiga. Isabis akan disusul dengan Mosi. Aku akan menyusul di belakang kalian bersama Olu. Kami akan disusul Jabir, Kellan dan Amari.” First memperhatikan keenam Fu-nya yang terus memperhatikan peta.

“Serigala aktif dimalam hari, dan mereka sangat sensitif terhadap gerakan. Insting mereka akan membangunkan semua kelompok untuk mulai berburu, pada waktu kapanpun. Kolam dibangun tanpa pembatas dengan lingkungan hidup mereka, dan sama seperti mereka, buaya akan mulai terjaga jika merasakan air beriak.”

Mereka mengangguk-angguk dengan dahi berkerut sambil terus mendengarkan penjelasan First.

“Selagi kami berenam menahan gerak binatang-binatang itu, sebisa mungkin kau Mosi, harus menjadi pelontar Isabis hingga bisa melompati kolam sepanjang tujuh meter itu.”

Otot-otot Isabis menegang.

“Kellan, bawa katana dan bo-kenmu, tukarlah bo dengan kunai Isabis di kandang serigala. Isabis akan menggunakannya sebagai galah untuk membuatnya tetap berada di atas air setelah lontarannya. Kemudian, Isabis, berayunlah untuk mencapai ujung kolam.”

Isabis mengangguk mengerti, Olu mengangguk padanya. First mengangkat sebuah Fukiya, benda seperti seruling bambu yang sedari tadi berada di sabuknya.

“Fukiya. Masing-masing akan membawa ini dan akan dilengkapi dengan dua buah panah kecil yang dilumuri obat tidur. Berjaga-jaga jika kita harus menggunakannya kepada binatang-binatang itu. Ini tidak akan berhasil pada reptil karena struktur kulit mereka. Tapi mereka lamban di atas air, kita akan baik-baik saja.”

“Dan Tetsuo?” Tanya Jabir.

“Tetsuo berada di tengah gazebo,” First menunjuk kembali pada gambar kecil di sisi lebar peta. Gambar itu menunjukkan sebuah gazebo semi-terbuka yang dikelilingi kolam. “Bentuknya seperti setengah bola, tembus pandang namun berpendar putih susu dan biru. Seharusnya, Tetsuo adalah satu-satunya benda yang berada di sana.”

Mereka semua mengangguk.

“Setelah kau ambil Tetsuo, kaitkan talimu di pilar gazebo tertinggi, Isabis. Lemparkan ujungnya kepadaku, begitu caramu kembali nanti.”

Isabis mengangguk.

“Jika aku atau kami semua tidak ada yang meraih talimu, di seberang gazebo pada sisi barat terdapat pohon. Gunakan sai untuk melilit pokoknya.”

Isabis mengangguk lagi.

“Lahan berisi dua belas binatang ini sangat luas.” First menatap pada petanya. “Jika kita beruntung, hewan-hewan itu akan menyebar pada lingkar mereka selain jalan masuk kita. Sejauh ini, jalur-jalur utara aku anggap lemah, hingga mudah disusupi. Tapi binatang bukanlah manusia, mereka tidak akan menunggu untuk menyerang. Jadi, tetaplah berhati-hati nanti, teman-teman.”

“Berapa lama waktu yang kita punya?” tanya Olu Femi.

“Total keseluruhan adalah satu jam, masuk hingga keluar. Jalur keluar alternatif,” jarinya menyusur peta lagi dan menunjukkan kotak kedua di sisi lebar peta. “Melewati sisi timur. Jalan itu lebih singkat dan menuju kembali pada gerbang utama, namun kita akan berada di ruang terbuka tanpa perlindungan. Strategi ini akan dimatangkan dalam seminggu.”

Kellan Abena meraih gelasnya. “Untuk Fu,” sulangnya menjunjung gelas tinggi-tinggi. Keenam Fu di ruangan itu meraih gelas masing-masing dan mengangkatnya juga. Pekerjaan mereka belum usai sampai Tetsuo menjadi milik Fu.

Advertisements
Status

One thought on “Gwara Map

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s